Masuk Dunia Arsitektur

 

“The new cool is being an architect”



Belajar arsitektur sama artinya dengan belajar menggambar. Namun, menggambarnya tidak sepenuhnya menggambar seni. Setengah seni dan setengah yang lainnya teknik. Karena yang digambar adalah bangunan. Atau juga bisa interior bangunan. Atau juga bisa yang lain. Yang masih ada kaitannya dengan papan.

Salah satu teknik dasar yang harus dikuasai seorang arsitek adalah Freehand Drawing. Menggambar bebas. Menggambar sketsa bangunan. Menggambar dengan tangan. Memang zaman ini kita semakin mudah dengan adanya komputer. Namun, keajaiban desain sering datang melalui freehand drawing.

Architecture-1

Untuk melalakukan freehand drawing (atau sebut saja sketcing) itu sendiri sebenarnya sederhana. Yang penting ada kertas dan pensil, kita sudah bisa melakukan sektching. Sederhana. Juga (kalau udah jago) cool.

kemudian untuk render sketsa, kita bisa mamakai teknik sederhana yaitu teknik arsir dengan pensil. Namun sebenarnya masih ada banyak teknik lain dan peralatan yang bisa digunakan seperti: Teknik tinta, Pensil Warna, Cat Air, Spidol, Charcoal atau juga bisa memadukan teknik-teknik tersebut.

Nah, teknik bermacam-macam inilah yang membuat awal tahun di arsitektur menjadi sebuah pemborosan berkepanjangan terutama bagi anak kosan. Belum lagi peralatan pelengkap yang lain seperti: Cutting Mat  (40-500K), MOR (150K), Tabung Kertas (50K). Nanti juga kita butuh perlatan dan bahan untuk pembuatan maket.

architect tool

Kalau saya punya lampu aladin dan diberikan 3 permintaan, salah satu permintaan saya adalah spidol super bagus dengan harga yang bagus pula: COPIC. Harga satu spidol ini mencapai 60K. Kalau habis harus diisi ulang dengan harga 40K.

Kadang kasihan juga kalau ada teman yang beli, eh malah dipinjemin sehingga cepat habis. Hahaha. Sungguh yang meminjam tidak berprikemanusiaan. kalau tidak dipinjam pun juga bisa cepat habis kalau digunakan untuk merender gambar sketsa diatas kertas A1.

A1

Semula saya berpikir bahwa menggambar di atas kertas A3 itu besar sekali. Namun, setelah sekian bulan kuliah arsitek, kertas A3 itu selalu kecil dan kurang. Setidaknya ukuran kertas harus A1. Pun, terkadang  juga teman-teman merasa kurang. Begitulah mata arsitek. Kertas seolah menjadi sesuatu yang besar dan penting. sama pentingnya seperti nasi bagi orang indonesia.

Nah, untuk membuat satu projek kita membutuhkan lebih dari satu kertas. Dosen saya cerita pernah membuat hampir 50 gambar untuk projek rumah hunian. Wah, lebay banget ya. Namun, setelah dijelaskan memang masuk akal. Perencanaannya sangat detail. Denah pipa air dan listrik pun juga di gambar.

burj khalifa

Pernah juga saya melihat gambar perancanaan hunian satu lantai yang akan dibangun di daerah puncak. gambarnya mencapai 60 kertas ukuran A3. Lalu seberapa banyak kertas untuk membagun bangunan 10 lantai lebih? Apalagi gedung tertinggi di dunia Burj Khalifa di Dubai dengan 160 lantai? Entahlah, saya belum tahu. Sejauh ini saya hanya pernah memegang satu bundel untuk bangunan 2 lantai. cukup tebal. namun masih belum setebal KBBI.

Dosen saya yang memang bekerja di salah satu kantor biro arsitek indonesia bercerita pernah memegang satu tumpukan kertas berisi gambar dengan berat 60 kg. Entah itu untuk bangunan berapa lantai. Saya jadi punya cita-cita baru: suatu saat ingin memegang bundel gambar rancang bangunan tertinggi di dunia. Atau, setidaknya menara petronas di negara tetangga.

Untungnya, sekarang sudah ada komputer. Sehingga menggambar teknik yang banyak itu, yang mencapai puluhan itu, bisa dikerjakan dengan cepat dan lebih mudah. Pun bisa dikerjakan secara bersama-sama dengan tim.

Sayangnya, universitas  baru memperbolehkan mahasiswa untuk menggunakan komputer pada semester 4. Masih 2 semester lagi. Itu berarti masih 2 semester lagi harus menggambar dengan tangan diatas kertas A1.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s